• A boat with beautiful sunset.
  • Tree in field with blue sky.
  • Amaizing sunrise moment

Download

Berita

New Design

Recent Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Februari 2010
Anakku Beli Mainan dengan Gajinya Sendiri

Anakku Beli Mainan dengan Gajinya Sendiri

Anak-anak saya membuka mainan yang dibeli dengan hasil keringatnya sendiri. Si sulung membeli permainan merakit rel kereta api seharga 300 ribu rupiah, adiknya membeli brick seharga 120 ribu rupiah. Uang tersebut mereka kumpulkan selama berbulan-bulan menabung dari pekerjaannya.

Senin, 25 Januari 2010
Kondisi Kelas di Sekolah Jepang

Kondisi Kelas di Sekolah Jepang


Bagi yang belum membaca pendahuluannya, silakan baca dulu disini.

Arsitektur sekolah mengambil konsep sebuah rumah; terdapat 玄关 (genkan) atau ruang transisi, yakni sebuah pintu masuk dimana tamu, guru, dan murid biasanya meletakkan payung mereka, melepas sepatu mereka dan menggantinya dengan sandal hijau atau cokelat (Saya rasa ada memang tidak ada warna lain) untuk berjalan di dalam gedung sekolah, sementara siswa mengganti sepatu "luar" dengan sepatu khusus dalam ruangan (uwabaki) yang selalu kain putih. Genkan, sandal, dan uwabaki ini mewakili pembagian antara "orang luar" dan "orang dalam" tradisi Jepang. Dengan begini bagian dalam sekolah relatif tidak terlalu kotor.


Sabtu, 23 Januari 2010
Subsidi Pemerintah untuk Pemerataan Pendidikan di Jepang

Subsidi Pemerintah untuk Pemerataan Pendidikan di Jepang



Sekolah-sekolah di Jepang memiliki kualitas fasilitas yang sama, seperti pusat kebugaran dan kolam renang, bahkan untuk sekolah kecil (yaitu sekolah yang memiliki kurang dari 100 siswa). Menariknya, mereka juga mempunyai desain arsitektur yang relatif sama, seperti bentuk blok-bangunan dengan satu bagian memiliki dinding lebih tinggi biasanya untuk meletakkan jam besar sehingga setiap orang yang memasuki area sekolah akan dapat melihat. Yang mengagumkan adalah beberapa sekolah bahkan memiliki lapangan bisbol.


Kamis, 21 Januari 2010
Mengenal Sistem Pendidikan di Jepang

Mengenal Sistem Pendidikan di Jepang


Sama halnya dengan Indonesia, Jepang menganut sistem sekolah 6-3-3-4 atau "jalur tunggal", yang telah dimulai sejak pasca Perang Dunia II. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan pendidikan yang setara bagi setiap warga negara untuk bersekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi tanpa diskriminasi dan sesuai dengan kemampuannya.

Sistem 6-3-3-4 maksudnya adalah wajib belajar 6 tahun di sekolah dasar (syougakkou) dan 3 tahun di SMP (chuugakkou), kemudian diikuti oleh 3 tahun SMA dan 4 tahun di universitas yang keduanya ini tidak wajib.
Rabu, 15 Juli 2009
Penerapan Inquiry Learning pada Pelajaran Desain Grafis

Penerapan Inquiry Learning pada Pelajaran Desain Grafis

Mata pelajaran desain grafis seperti Adobe Photoshop boleh jadi disangka sangat teknis dimana untuk menghasilkan sebuah gambar garis, misalnya, seorang desainer cukup menarik pena dari satu titik ke titik lainnya. Tetapi dengan kekayaan fasilitas filter (menu) pada software desain grafis, seorang guru dapat mengajak siswa untuk menganalisa langkah-langkah baru yang tentu akan menghasilkan variasi berbeda.

Ini berangkat sejak dulu pernah saya tidak setuju dengan definisi garis yang diberikan oleh guru gambar saya, yakni “garis adalah kumpulan titik-titik yang rapat dan sejajar”. Sebab saat saya membuat garis saya tidak sedang membuat banyak titik, tul… tul… tul… tetapi satu tarikan reeet…! Dari sini saya berpikir bahwa garis itu dapat difenisikan bagaimana saja tergantung bagaimana cara orang membuatnya.

Oke, mari kita mulai saja pelajaran ini…
Tingkat Awal: Mandiri
  1. Berikan beberapa file gambar (text layer, text rasterize, dots, foto, dsb.)
  2. Minta siswa untuk mengaplikasikan salah satu filter pada semua gambar tersebut
  3. Tanyakan kepada siswa apa dampak filter tersebut terhadap gambar
  4. Minta siswa untuk mendefinisikan fungsi filter itu sendiri secara detail. Pendapat yang paling mendekati dengan dampak yang dihasilkannya adalah yang paling dapat diterima. Boleh jadi merupakan kompilasi dari beberapa pendapat.

Tingkat Lanjut: Berkelompok
  1. Tunjukkan sebuah gambar hasil manipulasi sederhana dari Adobe Photoshop disertai dengan gambar aslinya,
  2. Tanyakan kepada siswa apa yang telah dilakukan pada foto aslinya sehingga menjadi gambar manipulasi
  3. Ajak siswa untuk mencoba mempraktekkan pendapatnya tadi
  4. Di akhir percobaan, minta siswa berkomentar sekali lagi terhadap pendapat pertamanya tadi. Siswa lain akan memiliki pendapat dan pengalaman yang berbeda, mereka dapat berbagi untuk menciptakan gambar yang paling mendekati dengan gambar hasil manipulasi.

Tingkat Mahir: Individu/Berkelompok
  1. Minta siswa untuk mengerjakan satu proyek dengan memberikan gambaran terhadap hasil akhirnya. Misalnya, poster tentang demonstrasi.
  2. Minta siswa membuat rancangan perkiraan desainnya. Misalnya siswa akan membuat kesan berdarah, kekerasan, konflik, warna kusam, dan semacamnya. Guru hanya mengeksplorasi seberapa kreatifkah siswa dalam menambahkan asesori untuk menambah citra rasa desainnya. Guru tidak perlu menyarankan siswa untuk menambahkan efek api, sebab itu dapat mencampuri imajinasi siswa.
  3. Minta siswa bekerja kelompok dalam waktu yang cukup. Bila dalam beberapa pertemuan, maka minta siswa untuk membagi pekerjaan menurut elemen-elemen yang dibutuhkan. Tetapi mereka harus membicarakan konsepnya bersama-sama.
  4. Setelah selesai, siswa menunjukkan hasil kerjanya, menyampaikan alasannya memilih desain tersebut, menjelaskan filosofinya, dan teknik pembuatannya. Sementara siswa yang lain memberikan komentar atas kesannya, menyarankan teknik tertentu atau tambahan elemen yang lain.
Kenapa Inquiry Learning?
Kegiatan pada inquiry learning ini bersifat terbuka, bebas, tanpa instruksi. Guru tidak memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh siswa. Melainkan siswa yang menemukan sendiri langkah-langkah tersebut. Keuntungan dari metode ini adalah:
  1. Mengasah kemampuan analisis siswa
  2. Membangun kemandirian siswa untuk bekerja menurut kapasitasnya sendiri
  3. Membentuk kemajemukan, sehingga satu orang dapat menghargai pemikiran dan hasil kerja yang lain.

Poin-poin hikmah ini juga perlu untuk disampaikan kepada siswa dan orang tua, supaya mereka mengetahui pada hal apa mereka telah berkembang. Misalnya, setelah siswa mempresentasikan pekerjaannya sensei menulis laporan kepada orang tua “Hikaru telah berhasil menganalisis foto abstrak, dan mampu membuat gambar serupa tanpa bantuan guru. Pada sesi presentasi dia mendapatkan kritik dari teman-temannya, namun Hikaru menerimanya dengan baik sekali. Hikaru cukup terbuka pada kritik.”

Jadi disini keuntungan bagi guru adalah:
  1. Membantu penjabaran prestasi siswa dalam memberikan penjelasan kepada orang tua
  2. Relatif lebih sedikit dalam persiapan pelajaran

Namun harus diperhatikan bahwa:
  1. Kemungkinan hasil kerja siswa berbeda dari apa yang diharapkan oleh guru. Disini guru harus terampil mengapresiasi pekerjaan siswa.
  2. Guru tidak boleh mengintervensi pekerjaan siswa, sebab bila demikian maka tujuan dari pembelajaran inquiry learning menjadi hilang.
Senin, 13 Juli 2009
Menimbang perlunya Seragam Sekolah

Menimbang perlunya Seragam Sekolah

Seragam adalah hantu bagi wali murid baru di awal tahun ajaran. Pengeluarannya yang bisa mencapai 1/4 dari total anggaran pendidikan anak. Tulisan berikut ini berusaha menimbang perlunya seragam sekolah bagi siswa TK hingga SMA. Mari kita simak artikel di bawah ini:
Foto diatas
Apa pentingnya seragam wisuda bagi siswa TK?

Artikel: Penghapusan Seragam Sekolah

Mari kita kritisi. Tanggapan berikut ini adalah terhadap artikel tersebut, dengan mempertimbangkan faktor siswa secara luas, mulai TK hingga Mahasiswa. Poin dibuat berurutan sesuai dengan nomor urut pada artikel di atas.
Tanggapan Saya

Pertama, Seragam yang bermacam-macam jenisnya memberatkan bagi keluarga miskin. Di TK anak saya, misalnya, seragam sekolahnya saja mencapai 300.000 rupiah (tahun 2008). Sementara gaji bulanan ayahnya yang guru adalah 500.000 rupiah. Belum ditambah dengan biaya yang lain yang di total mencapai 1 juta, itu pun setelah didiskon. Saya sampai bersungut-sungut...

Kedua, Seringkali siswa disibukkan dengan masalah seragam. Seragam kotor, masih basah, tereselip entah kemana, membuat siswa tidak dapat berangkat sekolah. Kalau dipaksa ke sekolah dengan seragam berbeda, dia akan merasa minder sehingga mempengaruhi kualitas belajarnya. Saat mengetahui seragam yang dipakainya keliru, giliran anak saya bersungut-sungut...

Ketiga dan keempat, kerapian dan keindahan tidak cuma bisa ditampilkan dengan seragam. Dengan pakaian bebas pun seorang siswa bisa tampil rapi dan elegan. Secara massal, memang dengan berseragam lebih indah dipandang. Misalnya saat baris-berbaris pada waktu upacara. Tetapi upacara hanya sekali dalam seminggu, dan itupun hanya beberapa jam. Lagipula, apa anda tidak pernah mendapati kalau seragam sekolah tertentu desainnya kuno?

Kelima, kebanggaan orang tua ini terhadap anaknya yang berangkat sekolah atau pada seragamnya? Perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan klaim ini.

Keenam, secara fisik boleh jadi begitu, meski sebenarnya lebih tepat disebut keseragaman. Sedangkan persatuan dan kesatuan itu adalah hal yang intrinsik, sehingga

sekali lagi perlu dibuktikan bagaimana perasaan siswa saat diberikan pilihan antara berseragam sekolah atau berpakaian bebas (demi obyektivitas, penelitian sebaiknya juga meliputi mahasiswa).Anda pernah menonton TV dong, bagaimana senioritas terkadang membuat mereka merasa berhak menganiaya para juniornya.

Ketujuh, saya tidak melihat pentingnya membedakan jenjang pendidikan dari TK hingga SMA. Kalau identitas itu diperlukan, mungkin untuk mengetahui identitas sekolahnya saja.

Kedelapan, saya setuju dengan pemantauan ini. Dalam kasus masuknya orang asing ke lingkungan sekolah ini juga beralasan. Hanya saja perlu dibandingkan dengan kampus, dimana orang umum bebas keluar masuk lingkungan sekolah sementara keamanan bisa tetap dijaga.

Kesembilan, logikanya agak aneh. Bagaimana dengan mahasiswa, apakah dengan tanpa berseragam mereka akan merasa liar? Perlu dilakukan penelitian untuk mengukur pengaruh seragam terhadap penurunan pelanggaran susila.

Foto diatas mahasiwa bisa tampil rapi dan disiplin meski tanpa seragam
Kesepuluh, saya tidak melihat signifikansi dari poin tersebut.

CATATAN: Foto diatas saya ambil dari link yang ada bila mengklik fotonya. Bila ada yang berkeberatan silakan menyampaikan pada saya melalui email giligpradhana@gmail.com
Keuntungan Bila Tanpa Seragam

Pertama, hemat, sehingga terjangkau oleh rakyat miskin

Kedua, tidak membebani psikologi siswa pada hal yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Mereka perlu fokus kepada pelajaran, tidak perlu dialihkan kepada hal lain yang tidak penting.

Foto disamping: Di banyak sekolah di Jepang, dan AS, siswa SD hanya diwajibkan berseragam pada saat olah raga.

Ketiga, keterbukaan. Siswa dapat tampil apa adanya, sesuai dengan karakter dan kesukaan mereka. Guru dapat melihat bagaimana masing-masing gaya siswa yang sebenarnya sehingga dapat memberikan penilaian tentang hal itu. Misalnya bila siswa suka mengenakan baju yang terlalu mencolok, guru bisa mendekati dan menyarankan sesuatu untuk kebaikan siswa.

Keempat, keindahan. Siswa dapat tampil serapi atau semenarik mungkin (dalam batas kesopanan). Ini adalah hal alamiah yang dimiliki oleh seorang anak muda.

Kelima, memunculkan toleransi. Siswa dapat tampil sesuai dengan kebiasaan/ budaya keluarganya, sehingga semua siswa akan dapat melihat kenyataan bahwa masing-masing itu berbeda, dan mereka akan berlatih untuk menghargai perbedaan. Bila ada siswa yang kurang mampu, maka tentu akan dapat dikenali, disini siswa yang lain dapat segera memberikan respon positif misalnya berupa bantuan.

Keenam, menciptakan obyektivitas. Ketika berbaur dengan banyak siswa yang lain, seorang tidak akan dapat dibedakan mana yang senior dan junior. Maka yang dihargai bukan lagi penampilannya, melainkan kualitas pribadinya.
Kesimpulan
Menimbang baik dan buruknya pemberlakuan seragam di sekolah, maka saya berpendapat:
  1. Jika sekolah mengadakan seragam, hendaknya memperhatikan kondisi ekonomi siswanya. Misalnya dengan membantu siswa yang kurang mampu.
  2. Seragam atau tidak, ukuran kesopanan dan kerapian hendaknya diukur dari standar Islam. Bila tidak akan terjadi perbedaan yang mencolok dan tidak perlu. Misalnya, betapa kapitalistiknya aturan "dilarang memakai sandal di kampus" lantaran dianggap tidak sopan (?) sementara yang berbaju ketat dan "kekong" (kethok bokong -maaf) dibiarkan berlalu lalang.
Jika ditanya, apakah dalam sekolah saya kelak akan menerapkan pemberlakuan seragam? saya akan jawab "hanya satu jenis seragam saja" untuk keperluan seremonial, karnaval, atau mengirim perwakilan sekolah, sementara untuk hari-hari kebanyakan siswa dibiarkan memilih baju kesukaannya untuk berangkat ke sekolah.
Nah, sekarang giliran anda mengkritisi...
Rabu, 08 Juli 2009
Meeting George Meegan

Meeting George Meegan

If I may say three words about him, those will be: modest, spiritful, and inspiring!
Tidak kusangka bahwa George Meegan yang kutemui adalah orang yang sangat luar biasa, ketika pertama kali kubaca artikelnya di internet tentang hikikomori. Ternyata dia sudah lebih dari separuh baya, ternyata dia adalah seorang sensei (bukan gakusei), ternyata dia senseinya teman-temanku, ternyata dia pemecah Guiness world of record (The Longest Walk), ternyata dia pengarang buku (Democracy Reaches the Kids), wah... belum cukup kejutannya, ketika aku mampir ke ruang kantornya masih sempat dibuat heran.

Ruangannya seperti museum, meja tamunya rusak salah satu kakinya, roda sepedanya bengkok, ha ha ha... benar-benar omoshiroi! Terakhir dia memberiku kenang-kenangan sebuah buku dan dua buah CD. Dia menyebutku "Young Gilig".

Apa yang kubicarakan dengannya insyaAllah kutulis dalam sesi yang berbeda, sekarang mengenang keunikannya dulu. Thank you George!
Rabu, 24 Juni 2009
Integrated Subject - Inquiry Learning

Integrated Subject - Inquiry Learning

KELAS 5 ITU hanya diisi sekitar 30 siswa, diawali sang sensei yang menempelkan topik di papan tulis. [magnetboard ini benar-benar praktis! kapan ya Indonesia mengganti blackboard dan whiteboardnya dengan ini] kemudian meminta siswa membaca keras materi yang akan dipelajari hari ini. Siswa masing-masing berdiri dan membaca keras, dan suasana seperti sarang lebah.
Kata profesor, membaca keras dilakukan agar siswa "bangun". Kadang-kadang transisi antar pelajaran mengalir kurang berirama sehingga siswa masih terbawa pelajaran sebelumnya, tidak siap menerima pelajaran baru, atau singkatnya gak ngeh.
Tema pelajaran bahasa Jepang kali ini adalah peran lebah dalam penyerbukan bunga, hmm... kurang lebih begitu lah, ya. Ampuni bahasa Jepang saya. Setelah itu sensei memberikan kesempatan siswa untuk menggarisbawahi bagian dari naskah bacaan itu yang dianggap penting bagi siswa.

Kira-kira begini, sebagian siswa menganggap bahwa kita perlu menjaga kelestarian lebah sehingga nantinya lebah itu dapat membantu penyerbukan. Siswa yang lain menganggap kita perlu membantu penyerbukan bunga itu secara langsung. Yang lain menganggap bagian yang penting adalah menjaga lingkungan secara keseluruhan, supaya baik lebah dan bunga dapat terjaga kelestariannya. Katakanlah dari masing-masing pendapat itu diwakili oleh sebuah kelompok, maka sensei mencatat pendapat masing-masing kelompok tersebut. Setelah itu beliau membagikan kertas dimana masing-masing siswa menjelaskan pendapatnya tadi. Setelah 10 menit berlalu, beberapa siswa diminta untuk menyampaikan apa yang telah dituliskannya.
Singkat cerita, tahapan pembelajaran metode ini adalah:
  1. Mengemukakan pendapat pribadi
  2. Mendiskusikan dalam kelompok
  3. Mempresentasikannya
Metode pembelajaran yang disebut dengan Inquiry Based-Learning dimana sistem pembelajaran harus didasarkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid, dan guru pada sistem ini memiliki tugas tidak memberikan pengetahuan namun dia memfasilitasi anak untuk dapat menemukan pengetahuan itu sendiri. Sehingga guru menjadi seorang fasilitator dibandingkan sebagai sumber pengetahuan. (Ghifti, 2009)

Gambar disamping menunjukkan sang sensei tengah memandu siswa merumuskan analisisnya. Sensei sangat supportive dan friendly terhadap siswa, sehingga mereka bekerja sama seperti teman.
Jumat, 19 Juni 2009
Keceriaan yang Takkan Kau Lupa di SD

Keceriaan yang Takkan Kau Lupa di SD

Kali ini saya datang lagi ke 小学 SD Yashiro sekitar 5 menit naik mobil bersama teman Laos diantar oleh istri Sensei-nya. Ya, selama ini aku menumpang ke kelas teman-temanku untuk bisa nyelonong ke program kunjungan sekolah mereka. Kami diberitahu bahwa di kelas 5 yang akan kami singgahi nanti, mereka akan belajar bahasa Jepang bertopikkan sejenis bunga yang pengembangbiakannya membutuhkan lebah tertentu.

Tur Sekolah
Sejenak, Sensei mengajak kami berkeliling sebelum kelas dimulai. Di sekolah ini, sepatu harus diganti sandal yang sudah disediakan oleh sekolah di genkan (dekat pintu masuk). Maka di ruang tengah ratusan sepatu siswa disimpan rapi dalam lemari. Ruang tengah ini merupakan muara ke pintu keluar menuju lapangan bermain. Ide menggunakan sandal di dalam gedung sekolah ini tidak saya mengerti betul manfaatnya. Sementara saya menganggapnya untuk membuat semirip mungkin dengan kebiasaan di rumah di Jepang. Kalau ternyata memang begitu, boleh juga untuk mengadaptasikannya di Indonesia dengan lepas sepatu -kemudian nyeker- di sekolah. Hitung-hitung menjaga kebersihan.

Kami naik ke lantai 2 dan 3, menengok kondisi kelas per kelas. Di sepanjang lorong, keceriaan tidak pernah pudar. Dinding dan kaca semuanya berhias kreasi siswa. Sensei menjelaskan bahwa di bulan Oktober nanti akan ada lomba musikal yang diikuti oleh seluruh siswa. Sehingga kelas 1 hingga kelas 6 dicampurbaurkan untuk dibagi menjadi beberapa tim dengan komposisi sama. Tim ini merancang bendera tim (gambar kanan, teman saya sedang menunjuk salah satu bendera kelas), sorak yel-yel, dan drama musikal, bahkan sampai menjahit sendiri kostumnya. Saya sudah membayangkan saat event berlangsung, pasti para penjual es dan jajanan berkerubung di pagar sekolah memanfaatkan keramaian.

Kegiatan yang Integral
Sekolah ternyata memiliki sebuah kebun yang disitu murid diajari untuk ikut bercocok tanam, memanen hasilnya, memasak, dan menyajikannya untuk orang tua. Dalam pelajaran ini ilmu alam, bahasa, dan ilmu sosial diajarkan sebagai satu pendidikan life skill.

Wah, sayangnya kelas sudah akan dimulai... jalan-jalannya besok lagi ah!
Sabtu, 13 Juni 2009
Melatih Berpikir Ala 小学 

Melatih Berpikir Ala 小学 

Beginilah Sekolah Jepang
Bersama teman dari Brunei, saya mengunjungi sebuah SD di daerah Kato-shi, Jepang. Sebuah kota kecil 50 km dari Kobe, yang kalau ditanyakan ke orang Jepang sekalipun mereka tidak banyak yang tahu.

Sekolah itu terkesan kecil dan sepi. Beberapa anak yang mungkin pulang lebih awal terlihat bermain diluar, memanggul tas kotak yang khas SD di Jepang, mengenakan boots karena hari itu gerimis mulai pagi. Saat masuk ke dalam, bukan main, semua kesan itu hilang. Lorong sekolah penuh dengan murid-murid yang mengepel lantai, menyapu, menata lemari, mengelap jendela, mereka sibuk sekali. Beberapa mahasiswa yang magang membantu dan memberi instruksi pada mereka. Rupanya sebagian waktu istirahat tiap hari adalah untuk piket. (Gambar disamping adalah suasana seusai piket)

Jangan tanya caranya mereka menyapu! Baiklah, kalau memaksa, mereka tidak-membiarkan-debu meski dibalik lemari! Oke, mungkin saya berlebihan, tapi kalau melihat sendiri, pasti kita akan malu.

Bel Masuk
Suasana kelas saat pelajaran dimulai sangat ceria, dalam ruangan yang sangat luas Saya bisa melihat ke luar dari jendela tingkat dua yang besar di seluruh dinding, sehingga lapangan bermain sekolah bisa dinikmati dari sini. Meja guru yang berada di belakang kelas seolah membuat guru akan betah berada di sana daripada di ruang guru. Lebih jauh ke belakang, bermacam-macam prakarya siswa, sehingga saya juga mengira kelas itu sekaligus laboratorium IPA mereka.

Ueda-sensei memulai pelajaran Matematika hari itu dengan sebuah pertanyaan 6 x ロ = 24 (tepatnya saya tidak begitu paham karena -tentusaja- disajikan dalam 日本語 bahasa Jepang medok). Kemudian menempelkan tiga jawaban yang sudah disiapkannya dari rumah.

Pilihan Jawaban
  • Soal A: 4 kantong, masing-masing di dalamnya dimasukkan 6 permen. Berapa jumlah semua permennya?
  • Soal B: Tiap anak membawa 6 permen. Ketika semuanya dikumpulkan, permennya berjumlah 24. Berapa anak yang berkumpul?
  • Soal C: 6 anak membawa permen, yang waktu mereka menghitung jumlah permennya, semuanya 24, berapa permen masing-masing anak itu?
Sensei menyuruh mereka membaca soal nyaring lalu mencatat. Setelah masing-masing siswa menyalin ke bukunya, sensei menanyakan pilihan dari A-B-C yang paling mewakili soal tadi. Kelas segera terpecah menjadi 3 pendapat, kira-kira 1/3 meyakini A, 1/3 memilih B, dan sisanya C. Ini yang mencengangkan... ketika sensei bertanya kenapa, siswa berebut mengacungkan tangan. Seorang anak laki-laki ditunjuk, ia berdiri dan ber-argumentasi!!! (Oh ya, apa saya lupa menyebut kalau mereka siswa kelas 3 SD?)

Tak mau kalah dengan kelompok A, anak laki-laki lain dari pemilih B menyusul berdiri dan ikut mengemukakan bagaimana jawabannya lebih mendekati kebenaran. Seorang anak perempuan kelihatannya tidak serius dengan pelajaran, ia memperhatikan kami -para peneliti- yang berdiri tenang, mencatat, serius di belakang kelas. Kehadiran para peneliti ini agak mencolok, karena jumlahnya saya hitung 1, 2, 3, ..10, 20, ...25! Dua puluh lima orang peneliti, dari mahasiswa, peserta training, sampai professor ikut nimbrung di kelas yang diikuti 30 siswa SD itu.

Ee... Anak perempuan itu berdiri, maju ke depan kelas, menerangkan jawabannya, membuat coretan-coretan di papan tulis menunjukkan poin argumentasinya. Saya ternganga. Anak lain berkacamata melawan argumentasi itu dengan menceritakan soal sambil menggambar 6 bulatan besar masing-masing diisi 4 bulatan kecil menunjukkan 6 anak dengan 4 permen. Apresiasi kelas yang cukup positif saya yakin sudah melejitkan kepercayaan diri pada penjawab-penjawab itu. Masih ternganga... anak SD-kah mereka? tanya saya retoris, tak dapat dipercaya!

Ketiga jawaban tersebut adalah benar. Sensei sedang mengeksplorasi pendekatan yang dipakai oleh siswa. Seolah terbangun dari tidur, saya membandingkan bahwa metode hafalan yang selama ini saya ajarkan sebenarnya sudah kuno:
Pendidikan kuno hanya mementingkan HASIL, Pendidikan Modern juga mementingkan PROSES.
Hikmah buat Saya
Mungkin itu sebabnya di Indonesia kemampuan untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, dan toleransi menerima perbedaan pendapat juga tumpul. Keesokan harinya, saya memberi PR bagi murid bahasa Inggris saya, yang ditanyakan oleh orang tuanya, "Kenapa jawaban dalam PR ini benar semua?" Saya menjawab sambil berfilosofi untuk diri sendiri, "Bahasa adalah keahlian berkomunikasi, penting bagi anak untuk memilih ekspresi mana yang paling bisa mengungkapkan pendapat pribadinya. Benar dan salah itu nanti."
Minggu, 24 Mei 2009
no image

Info BEASISWA MONUKAGAKUSHO 2009

Untuk tingkat SLTA
Informasi Beasiswa Monbukagakusho
untuk Lulusan SLTA dan Sederajat

Pendaftaran Beasiswa Monbukagakusho bagi lulusan SLTA dan Sederajat untuk keberangkatan tahun 2010 dibuka pada tanggal 25 Mei 2009 dan akan ditutup pada tanggal 24 Juni 2009.

Persyaratan nilai pengambilan formulir untuk tahun ini mengalami perubahan sebagai berikut :
S-1 8,2 → 8,4
D-3 8,2 → 8,0
D-2 7,7 → 8,0

Untuk persyaratan dan keterangan lain mengenai beasiswa program ini, mohon lihat . Hanya yang memenuhi persyaratan yang akan diproses. Untuk melihat bidang-bidang studi yang ditawarkan untuk College of Technology (D-3) (Majors and Related Key Terms for Fields of Study)

Untuk S1
Informasi Beasiswa Monbukagakusho
Program Research Student
Keberangkatan 2010 untuk Umum

Pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2010 telah dibuka pada 20 April 2009 dan akan ditutup pada tanggal 22 Mei 2009.

Program ini ditujukan untuk mereka yang berminat dalam program research student di perguruan tinggi di Jepang.

Peminat pada waktu menjalani research student diperbolehkan melamar ke program degree (S-2 / S-3 / professional graduate course) atau meneruskan program S-3 setelah menyelesaikan program S-2 / professional graduate course, apabila lulus seleksi tes ujian yang diberikan oleh universitas yang bersangkutan.

Peminat juga dapat langsung masuk ke program degree tanpa mengikuti research student apabila telah mendapatkan izin dari universitas yang bersangkutan. Beasiswa diberikan tanpa ikatan dinas, mencakup biaya kuliah dan biaya hidup.


PERSYARATAN
  1. Lahir pada dan setelah tanggal 2 April 1975.

  2. IPK minimal 3.0 baik S-1 maupun S-2 (atau nilai EJUminimal 260 dalam jumlah 2 mata ujian tidak termasuk Bahasa Jepang)

  3. Nilai TOEFL-PBT minimal 550 atau TOEFL-CBT minimal 213 atau TOEFL-IBT minimal 79 atau ekuivalen, atau nilai Japanese Language Proficiency Test minimal level 2.

  4. Memilih bidang studi yang sama dengan disiplin ilmu sebelumnya.

  5. Bersedia belajar Bahasa Jepang.

  6. Sehat jasmani dan rohani.

  7. Pelamar harus membaca dan memahami lampiran keterangan secara teliti.


CARA PELAMARAN
  1. Formulir dapat diambil di Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang, Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya dan Medan atau bisa download dari halaman ini.

  2. Formulir beserta dokumen yang diminta harus dibawa/ dikirim langsung ke Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta (bukan ke Konsulat Jenderal Jepang).

  3. Pendaftaran dibuka pada tanggal 20 April 2009 sampai dengan tanggal 22 Mei 2009.

  4. Siapkan dokumen sesuai dengan lampiran no. 7.

  5. Download:
    Form-form yang dapat di-download dari sini adalah :
    - Application Form
    - Field of Study and Study Program
    - Recommendation Form
    - Certificate of Health


TAHAP PENYELEKSIAN
  1. Kedutaan Besar Jepang melakukan seleksi dokumen, dan akan memberitahukan kepada mereka yang lolos 1 (satu) minggu sebelum ujian tertulis. (Kurang lebih 100 pelamar dipilih melalui seleksi dokumen ini.)

  2. Ujian tertulis Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris akan dilaksanakan di Jakarta, Surabaya, Medan pada awal Juni 2009. (Bahasa Inggris sebagai ujian pilihan. Nilai yang lebih tinggi akan dipakai untuk pertimbangan seleksi.)

  3. Wawancara akan diadakan di Jakarta bagi seluruh peserta ujian tertulis dari pada bulan Juli 2009 sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh Kedubes Jepang (biaya transportasi dan akomodasi tidak disediakan Kedubes Jepang).

  4. Bagi yang lolos seleksi di Kedubes Jepang, akan diberikan surat keterangan sbb: 1 (satu) berkas formulir beserta dokumen yang telah diberi stamp Kedubes Jepang, surat keterangan untuk perguruan tinggi di Jepang, dan lembar “Letter of Acceptance”. Pelamar boleh memilih maksimal 3 (tiga) perguruan tinggi untuk mendapatkan izin penerimaan sebagai mahasiswa program degree atau research student, atau “Letter of Acceptance” (izin penerimaan tidak resmi) sebagai research student.

  5. Untuk mencari informasi perguruan tinggi di Jepang, silakan lihat website berikut:
    Directory Database of Research and Development atau
    Asian Students Cultural Association.

  6. Harap mengirimkan surat izin atau Letter of Acceptance dari perguruan tinggi Jepang secepat mungkin ke Kedubes Jepang.

  7. Kedubes Jepang akan merekomendasikan peserta ke MEXT.

  8. Peserta akan menjadi penerima beasiswa jika lolos seleksi di MEXT.


CATATAN

Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi :
Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang
Jl. MH Thamrin no.24 Jakarta 10350
Telp. (021) 3192-4308 ext.175 atau 176


Baca sumbernya? klik disini
Minggu, 17 Mei 2009
no image

Stres Menjelang Ujian Nasional

Setiap menjelang ujian nasional, para siswa dilanda stres yang luar biasa. Tidak hanya karena peningkatan aktivitas belajar, tetapi yang paling berat adalah beban psikologis yang diletakkan di pundak mereka; yakni apakah mereka akan lulus atau tidak. Seolah pertanyaan ini menentukan harga diri mereka, yang dari hasil ujian tersebut masyarakat akan menentukan label “pintar” bagi yang berhasil dan “bodoh” (atau bahkan “tidak berguna”) bagi yang gagal, atau paling tidak siswa akan dihantui perasaan semacam ini.

Kekhawatiran ini nampaknya tidak hanya menginfeksi siswa, tetapi juga mengepidemi pada orang tua siswa dan sekolahnya. Hal ini rupanya mendorong orang tua untuk mendaftarkan putra-putrinya ke tempat kursus sepulang sekolahnya, membuat jam lembur setelah belajarnya di sekolah. Hal mana yang ditangkap sebagai peluang bisnis yang tak akan kekurangan pasar. Tak jauh beda dengan apa yang terjadi di sekolah. Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih spesial, meski kadang diskriminatif, dengan dibentuknya kelas-kelas khusus, pelajaran-pelajaran tambahan, semua menambah ketegangan menjelang unas.

Terkadang maksud baik menampilkan hitungan mundur di halaman depan sekolah dirasakan siswa di sekolah berkualitas rendah sebagai ancaman kegagalan. Menyadari bahwa sulit bagi siswa-siswa tersebut mengejar ketertinggalannya, maka semakin mendekat ke hari-H, mereka banyak yang keluar jalur. Cara yang kemudian banyak ditoleransi oleh siswa adalah dengan berbuat “membantu orang tua”, dengan tidak jujur alias curang: mencontek. Bahkan cenderung ditanamkan oleh pihak sekolah sendiri dengan pesan-pesan eufemis “bantulah temanmu” kepada siswa yang lebih pandai di kelas dan pesan “jangan terlalu ketat, bijaksanalah” kepada pengawas ujian yang kita semua tahu maksudnya apa.

Diakui atau tidak unas-lah yang menjadi pemicu semua efek berantai tadi. Jika ini yang menjadi dampak mayor ujian nasional, maka sudah seharusnya kita bisa menilai bagaimana efektivitas mekanisme standarisasi mutu pelajar di Indonesia ini. Berkat unas, sekolah gagal menjadi instrumen pendidikan, karena siswa tidak lagi menjadi subyek, melainkan obyek menderita. Dengan kata lain yang mungkin terdengar kasar, siswa menjadi korban ambisi.

Berbeda halnya, jika bukan apa yang telah diuraikan di atas yang terjadi, maka bolehlah kita melanjutkan penyelenggaraan ujian-ujian nasional berikutnya.

[mencari artikel lain?]

Minggu, 10 Mei 2009
Lowongan Pekerjaan buat GURU

Lowongan Pekerjaan buat GURU

Nama Perusahaan : Homeschooling Primagama (HSPG)
Alamat : Jl. Bango Raya no.31C, Pondok Labu, Jakarta 12450
telp : (021) 7666238

Deskripsi : Homeschooling Primagama (HSPG), adalah merupakan system pendidikan alternatif untuk anak selain di sekolah. Keberadaannya sah dan dijamin undang–undang. Homeschooling mulai menjadi pilihan masyarakat sebagai alternatif metode pendidikan karena beberapa hal, misalnya karena adanya keinginan masyarakat untuk lebih fleksibel dalam mendidik anak, menyediakan system pendidikan yang lebih ramah terhadap perkembangan anak, maupun menjamin bahwa proses belajar mengajar anak bisa terlaksana secara maksimal.
Lowongan yang dibutuhkan, Persyaratan, Alamat Surat, Tanggal Penutupan

Lowongan untuk :
1. Staff Konselor (S-Kon)
2. Staff Kurikulum (S-Kur)
3. Guru SD (G-SD)
4. Guru SMP (G-SMP)
5. Guru SMA (G-SMA-IPA)
6. Guru SMA (G-SMA-IPS)
Lokasi Kerja di : Jakarta

Persyaratan :

1. Staff Konselor (S-Kon)
- S1 Psikologi
- Pengalaman Mengajar / Fresh Graduated
- Menyukai dunia pendidikan
- Mengerti anak kebutuhan khusus (Special Needs Students)
- Berkarakter baik dan siap bekerja keras
- Selalu ingin belajar mengenai hal baru
- Mendukung visi dan misi sekolah

2. Staff Kurikulum (S-Kur)
- Min S1 Pendidikan / Akta 4
- Pengalaman Mengajar
- Menyukai dunia pendidikan
- Mengerti mengenai kurikulum nasional, nasional plus dan international
- Dapat mengembangkan kurikulum sesuai visi dan misi sekolah
- Mendukung visi dan misi sekolah
- Berkarakter baik dan siap bekerja keras
- Selalu ingin belajar mengenai hal baru

3. Guru SD (G-SD)
Mata Pelajaran :
- Matematika
- IPA
- IPS
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- PPKN

4. Guru SMP (G-SMP)
Mata Pelajaran :
- Matematika
- IPA
- IPS
- Bahasa Inggris
- Bahasa Indonesia
- Pkn
- Ekonomi

5. Guru SMA (G-SMA-IPA)
Mata Pelajaran IPA :
- Matematika
- Fisika
- Kimia
- Biologi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris

6. Guru SMA (G-SMA-IPS)
Mata Pelajaran IPS :
- Sosiologi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- Ekonomi Akutansi
- Matematika
- Geografi

Persyaratan Guru SD,SMP,SMA :
- S1 Pendidikan / Akta IV
- Pengalaman Mengajar / Fresh Graduated
- Menyukai dunia pendidikan
- Mendukung visi dan misi sekolah
- Berkarakter baik dan siap bekerja keras
- Selalu ingin belajar mengenai hal baru

Alamat Surat, dsb :
Kirimkan Lamaran (tulis kode lamaran), CV dan Nomer telp yang dapat dihubungi,

via POS ke :
HRD hspg_pdklabu
Jl. Bango Raya no.31C, Pondok Labu
Jakarta 12450

atau via email ke :
hrd_hspg_pdklabu@yahoo.co.id
Tgl. Penutupan : 21 Juni 2009

Minggu, 03 Mei 2009
no image

Bagaimana berkomunikasi saat anak marah

Seringkali orang tua merasa dilematis menyikapi tingkah laku anak. Oleh karena itu perlu kita berbagi ilmu untuk memudahkan para orang tua mendidik anaknya di rumah. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah:
(1) Pisahkan mereka dari yang lain (teman, saudara, orang)
Anak memiliki rasa malu, bila mereka merasa dipermalukan maka anak akan semakin marah dan tidak terkendali.
(2) Berjongkoklah, duduk setara dengannya, pandang matanya
Saat kita berbicara serius sambil berdiri, anak merasa bahwa kita adalah atasan, kata-kata kita adalah perintah, yang boleh jadi akan disimpulkan sebagai ancaman atau penolakan terhadap keinginannya. Maka perlakukan dia sebagai teman dimana kita siap mendengarkan engan sungguh-sungguh.
(3) BILA dia tidak terkendali (berteriak, meronta, memukul) peringatkan dengan tegas "Hen-ti-kan!" jangan dengan berteriak, jangan membentak, tapi dengan nada rendah yang tegas dan jelas. Sampaikan peringatan bahwa bila dia terus tidak terkendali akan didudukkan di "kursi nakal". Peringatan sangat penting untuk memberi ruang pada anak untuk mengoreksi perbuatannya sendiri. Jangan memberi hukuman tiba-tiba.
(4) BILA dia tadi berbuat salah, beritahu dia bahwa anda (dan korban, saudara/teman-teman yang lain) akan mendiamkannya selama 5 menit, dan dia harus duduk di tempat "kursi nakal" kalau ingin kembali berkumpul dan bermain lagi.
(4.a) BILA anak berusaha kabur dari kursi nakal, ambil dia, kembalikan ke kursi itu berapa kalipun dia mencoba. Ingat! Orang tua/guru harus menjadi pemimpin & pengatur. Anak harus belajar menghormati aturan.
(4.b) Setelah 5 menit selesai, datang pada anak (gaya no. 2), katakan padanya dimana letak kesalahannya, dan apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan itu (minta maaf, berjanji tidak mengulangi lagi).Perhatikan cara meminta maaf anak supaya ia benar-benar sopan dalam meminta maaf. Ingat, bahwa cara yang dia lakukan ini nantinya akan dilakukannya di luar rumah/sekolah.
(4.c) Hargai pengakuannya, peluklah dia, cium dia, katakan betapa bangganya anda terhadapnya karena telah berani meminta maaf. Cari ungkapan baru, jangan klise, agar anak benar-benar merasa ini pujian dari hati.
[*] BILA anak tidak berbuat salah, lewati langkah 4 / 4.a / 4.b ini dan langsung ke langkah 5.
(5) Tanyakan apa yang membuat dia marah, "Kenapa sayangku? Ada apa?" Dengarkan sepenuhnya, dan tetaplah bersikap adil. Karena keadilan itu dekat dengan taqwa.
(6) Bila anda mampu memberi solusi, usulkanlah, dan bantulah anak mewujudkan solusi itu.
> Maksudnya mengusulkan pada anak, adalah memberikan padanya kebebasan untuk memilih, melatihnya supaya berpikir menimbang akibatnya. Misalnya, "Kalau kakak yang memotong kuenya, adik yang memilih potongannya ya... nanti ibu yang menghias kue-kuenya." atau "Kalau kakak mau mainan yang itu, bisa nggak kakak meminjami mainan yang disukai adik buat mainan adik?"
> Kalau anda tidak mampu memberikan solusi, sampaikan terus terang, dan janjikan kepadanya anda akan berusaha untuk terus menolong. Misalnya, "Ibu juga tidak tahu caranya, nanti kalau ayah datang kita tanya sama-sama yuk." Keterusterangan orang tua mengajarkan anak bahwa mereka tidak perlu takut akan kekurangannya, akan kritik, dan mengajaknya mau berbagi.
(7) Jangan lupa, setiap usaha anak menuju yang lebih baik selalu pantas untuk dirayakan, meski hanya dengan membacakan dongeng saat hendak tidur malam.
* Mudah-mudahan bermanfaat *
Mohon saran & kritiknya.
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Gilig Guru All Right Reserved