Download
Berita
New Design
Recent Post
Tampilkan postingan dengan label Anakku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anakku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Februari 2010
Minggu, 13 Desember 2009
Anakku
Abi! langitnya disapu... sama malaikat!
Teriak anak sulungku sejurus setelah dia keluar pintu. Lalu dia masuk sambil tersenyum-senyum kagum, “kok bisa ya?”
“Pertanyaan yang sama menggelitik hatiku, nak, tetapi tentang dirimu...,” batinku. Kok bisa kamu mengambil kesimpulan seperti itu. Fatih berusia baru 5 tahun saat ‘kesadaran’ tentang malaikat ini terucap dari bibirnya. Meski aku tahu, itu mungkin sekedar prasangka anak-anak, namun anak-anak yang spesial.
Orang dewasa mungkin akan meluruskan prasangka itu dengan informasi yang ilmiah, bahwa awan itu digerakkan angin. Kesibukan keseharian membuat orang dewasa selalu berpikir logis, menurut anggapannya, yakni mencerna segala dengan dunia.
Mudah-mudahan kelak kesadaran ini menguat dalam dirimu, nak.
Minggu, 03 Mei 2009
AnakkuEmotional QuotientPendidikanSekolah
Bagaimana berkomunikasi saat anak marah
Seringkali orang tua merasa dilematis menyikapi tingkah laku anak. Oleh karena itu perlu kita berbagi ilmu untuk memudahkan para orang tua mendidik anaknya di rumah. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah:
(1) Pisahkan mereka dari yang lain (teman, saudara, orang)
Anak memiliki rasa malu, bila mereka merasa dipermalukan maka anak akan semakin marah dan tidak terkendali.
(2) Berjongkoklah, duduk setara dengannya, pandang matanya
Saat kita berbicara serius sambil berdiri, anak merasa bahwa kita adalah atasan, kata-kata kita adalah perintah, yang boleh jadi akan disimpulkan sebagai ancaman atau penolakan terhadap keinginannya. Maka perlakukan dia sebagai teman dimana kita siap mendengarkan engan sungguh-sungguh.
(3) BILA dia tidak terkendali (berteriak, meronta, memukul) peringatkan dengan tegas "Hen-ti-kan!" jangan dengan berteriak, jangan membentak, tapi dengan nada rendah yang tegas dan jelas. Sampaikan peringatan bahwa bila dia terus tidak terkendali akan didudukkan di "kursi nakal". Peringatan sangat penting untuk memberi ruang pada anak untuk mengoreksi perbuatannya sendiri. Jangan memberi hukuman tiba-tiba.
(4) BILA dia tadi berbuat salah, beritahu dia bahwa anda (dan korban, saudara/teman-teman yang lain) akan mendiamkannya selama 5 menit, dan dia harus duduk di tempat "kursi nakal" kalau ingin kembali berkumpul dan bermain lagi.
(4.a) BILA anak berusaha kabur dari kursi nakal, ambil dia, kembalikan ke kursi itu berapa kalipun dia mencoba. Ingat! Orang tua/guru harus menjadi pemimpin & pengatur. Anak harus belajar menghormati aturan.
(4.b) Setelah 5 menit selesai, datang pada anak (gaya no. 2), katakan padanya dimana letak kesalahannya, dan apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan itu (minta maaf, berjanji tidak mengulangi lagi).Perhatikan cara meminta maaf anak supaya ia benar-benar sopan dalam meminta maaf. Ingat, bahwa cara yang dia lakukan ini nantinya akan dilakukannya di luar rumah/sekolah.
(4.c) Hargai pengakuannya, peluklah dia, cium dia, katakan betapa bangganya anda terhadapnya karena telah berani meminta maaf. Cari ungkapan baru, jangan klise, agar anak benar-benar merasa ini pujian dari hati.
[*] BILA anak tidak berbuat salah, lewati langkah 4 / 4.a / 4.b ini dan langsung ke langkah 5.
(5) Tanyakan apa yang membuat dia marah, "Kenapa sayangku? Ada apa?" Dengarkan sepenuhnya, dan tetaplah bersikap adil. Karena keadilan itu dekat dengan taqwa.
(6) Bila anda mampu memberi solusi, usulkanlah, dan bantulah anak mewujudkan solusi itu.
> Maksudnya mengusulkan pada anak, adalah memberikan padanya kebebasan untuk memilih, melatihnya supaya berpikir menimbang akibatnya. Misalnya, "Kalau kakak yang memotong kuenya, adik yang memilih potongannya ya... nanti ibu yang menghias kue-kuenya." atau "Kalau kakak mau mainan yang itu, bisa nggak kakak meminjami mainan yang disukai adik buat mainan adik?"
> Kalau anda tidak mampu memberikan solusi, sampaikan terus terang, dan janjikan kepadanya anda akan berusaha untuk terus menolong. Misalnya, "Ibu juga tidak tahu caranya, nanti kalau ayah datang kita tanya sama-sama yuk." Keterusterangan orang tua mengajarkan anak bahwa mereka tidak perlu takut akan kekurangannya, akan kritik, dan mengajaknya mau berbagi.
(7) Jangan lupa, setiap usaha anak menuju yang lebih baik selalu pantas untuk dirayakan, meski hanya dengan membacakan dongeng saat hendak tidur malam.
* Mudah-mudahan bermanfaat *
Mohon saran & kritiknya.
Jumat, 06 Februari 2009
AnakkuMy Self
Anakku lahir
Senangnya mendengar tangisan bayiku, kubuatkan monumen cerita baginya untuk mengenang sejak hari ini. Kunjungi http://www.kapankah.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)






